Skip to main content

Senja Yang Terlampau Pergi

Ilustrasi memotret senja dengan smartphone.(Shutterstock)

  


Suatu sore yang indah, aku duduk di kediamanku Jakarta Selatan. Seperti biasa kopi hitam aku 

seruput sembari menikmati setiap kepulan asap yang keluar dari bibirku.Saban hari, senja adalah 

penantianku. Aku penyuka senja karena cahaya jingganya menghipnotiskan aku setiap aku 

menatapnya dari tirai jendela kamarku.Biasanya, beberapa kumpulan puisi senja aku habiskan 

membacanya setiap kuseruput kopi. Mudah rasanya aku defenisikan senja.Senja bagiku adalah 

balasan rindu dari setiap goresan rindu yang aku hitamkan diatas kertas putih. Bodoh amat, apa pun 

defenisi senja bagi pecinta sastra. Toh setiap orang punya perspektif berbeda.Sore itu sepi sekira 

pukul 16.00 Wib, satu jam lamanya aku menunggu penantian itu. Lantunan ayat- ayat suci yang 

sahdu belum terdengar dari rumah ibadat sebelah. Ku hanya memandang gedung bertingkat 

menjulang hampir mencapai awan biru.Tak heran, Jakarta adalah ibukota. Tak kulihat juga hiruk 

pikuk para pekerja yang pulang dari tempat kerja masing-masing. Sunyi aku rasakan.Hanya saja 

sedikit kulihat, satu dua mobil yang berlalu lalang, dengan kepulan asapnya yang membuat kota ini 

dijuluki kota dengan polusi terbesar di Dunia.Penantianku yang lama itu, tak juga datang. Rindu terus 
mengiris kesakitan, sesak rasanya. Mungkin kalau makanan, ingin kumuntahkan semuanya.Toh rindu 
itu absolut hanya bisa dirasakan. Rindu adalah penyakit yang sering kambuh bagi mereka yang 

menjalankan hubungan jarak jauh atau biasa disebut LDR.Cahaya senja adalah kawanku yang selalu 

setia menghantarkan rinduku. Karena menurutku,senja akan selalu bergantung di langit jingga setiap 

sore dimanapun berada.Tiba-tiba suara gemuruh, gemetar serasa kepala pusing membangunkan diriku 
dari tidurku di pembaringanku.Perlahan kubuka mataku, meski masih setengah terutup kubukan pintu 
kamarku. Lalu, lari berhamburan keluar dari kamarku."gempa....gempa...gempa," kata perempuan 

berbibir merah jambu itu.Dadaku, lantas gemetaran antara takut gempa dan melihat merah bibir 

perempuan itu.Aku berada dalam situasi dilematis. Oooh, aku baru sadar ternyata gempa dan melihat 

bibir perempuan sama rasanya di dada. Aku hanya tersenyum sedikit, karena kepanikan yang 

menderaku.Kulihat, jam tangan yang melilit tanganku sudah berada di angka 6. Lantunan ayat-ayat 

shadu membuyarkan kepanikan dan perasaan dilematisku."Ah, senja sudah ditelan bumi," kata dalam 
hatiku.Inginku maki sekeras mungkin karena tidur yang menghambat diriku menikmati senja. Tapi 

penantian akan senja tak akan membuat semangatku pudar. Toh setiap hari senja akan selalu 

bergantung di awan biru. Meski hanya sesaat tetapi dia adalah kawan setiaku yang dengan senang 

hati menghantarkan setiap rindu yang tumpah.

Oleh:Penikmat Senja,kopi hitam

Popular posts from this blog

Daftar Nama Jalan di Belanda Abadikan Nama Pejuang Indonesia, Kenapa Soekarno Tidak Ada ?

Sunber Gambar.(gird.id) Sebanyak sembilan nama tokoh pahlawan Indonesia akan menghiasi jalan di kota Amsterdam, Belanda Dan bakal ada satu nama jalan yang menggunakan nama Merdekastraat atau Jalan Merdeka. Namun, dari sekian nama tersebut nama Soekarno tak ada dalam daftar nama-nama tersebut. Pemerintah Kota Amsterdam akan meresmikan penggunaan nama jalan-jalan di kawasan pemukiman Ijburg yang mengabadikan 27 nama tokoh antikolonial dari negara bekas koloni Belanda.Sebagaimana diberitakan histori.id Wilayah Ijburg adalah kawasan pemukiman yang terletak di Ijmeer, pulau buatan sebelah tenggara Amsterdam itu, akan terpajang nama Tan Malaka (Tan Malakastraat), RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara (Suwardistraat), SK Trimurti (Trimurtistraat), Kapiten Pattimura (Pattimurastraat), Pangeran Diponegoro (Diponegorostraat dan Diponegorohof), Maria Ullfah (Mariaulfahstraat), Soekaesih (Soekaesihstraat), Roestam Effendi (Roestam Effendistraat), Lambertus Nicodemus Palar (Palarst...

BEBASKAN KAUM TERTINDAS DARI BELENGGU KETERTINDASAN

Dalam mencapai Pendidikan kaum tertindas, yakni pendidikan bagi manusia yang terlibat dalam perjuangan bagi kebebasan mereka sebagai manusia yang mempunyai hak yang sama, berakar disini. Bagi mereka yang sadar, atau mulai menyadari dirinya sendiri sebagai kaum tertindas ataupun terbungkam, dituntut untuk bersinergi dalam mengembangkan kualitas pendidikan ini. Tidak ada pendidikan yang sungguh-sungguh membebaskan yang tetap membuat jarak dari kaum tertindas, dengan menganggap mereka sebagai orang-orang yang tidak beruntung dan menyajikan model pelajaran tiruan yang beerasal dari kaum penindas. Edukasi kaum tertindas sebagai edukasi para humanis dan pembebas, terdiri dari dua tahap, pada tahap pertama, kaum tertindas membuka sekat dunia penindasan dan memulai praksis melibatkan diri dalam mencapai perubahan yang signifkan. Pada tahap kedua, dimana realitas perubahan itu selalu dinamis, pendidikan ini tidak lagi milik kaum tertindas tetapi menjadi pendidikan untuk seluruh manusia dalam p...

Kosmologi Masyarakat Manggarai dalam Ritus Lingko

   K osmologi Masyarakat Manggarai                      dalam Ritus Lingko P endahuluan      L ingko adalah kebun komunal orang Manggarai Flores Barat Nusa Tenggara Timur yang berbentuk bundar dan di tengahnya terdapat titik pusat yang disebut lodok. Dan dari pusat( lodok )ini ditarik garis lurus ke luar hingga pinggiran lingko ( cicing ). Dalam pembagian ini, masing-masing orang mendapat jatah tanah sesuai kedudukannya dalam kampung yang takarannya diukur dengan menggunakan jari tangan ( moso ). Ada yang mendapat moso ponggo (ibu jari) karena dia adalah tetua kampung yang berpangkat tu’a golo(ketua adat)atau tu’a teno. Sementara itu, seluruh warga biasa juga mempunyai hak sesuai denga ukuran lahan( mosonya )masingmasing.    Pembagian tanah dengan sistem lingko ini dijalankan secara ritual. Ada beragam ritus yang mesti dijalankan saat membagi tanah dalam sistem lingko. Inti dar...