Dalam mencapai Pendidikan kaum tertindas, yaknipendidikan bagi manusia yang terlibat dalam perjuangan bagi kebebasan mereka sebagai manusia yang mempunyai hak yang sama, berakar disini. Bagi mereka yang sadar, atau mulai menyadari dirinya sendiri sebagai kaum tertindas ataupun terbungkam, dituntut untuk bersinergi dalam mengembangkan kualitas pendidikan ini. Tidak ada pendidikan yang sungguh-sungguh membebaskan yang tetap membuat jarak dari kaum tertindas, dengan menganggap mereka sebagai orang-orang yang tidak beruntung dan menyajikan model pelajaran tiruan yang beerasal dari kaum penindas.Edukasi kaum tertindas sebagai edukasi para humanis dan pembebas, terdiri dari dua tahap, pada tahap pertama, kaum tertindas membuka sekat dunia penindasan dan memulai praksis melibatkan diri dalam mencapai perubahan yang signifkan. Pada tahap kedua, dimana realitas perubahan itu selalu dinamis, pendidikan ini tidak lagi milik kaum tertindas tetapi menjadi pendidikan untuk seluruh manusia dalam proses mencapai kebebasan yang tak ada pandangan kelas. Dalam kedua tahapan ini dibutuhkan gerakan yang mendasar agar kultur dominasi dapat dilawan dengan kultur pula. Pada tahap pertama, maka perlawanan itu terjadi dalam hal kaum tertindas menyadari akan adanya dunia penindasan; dan pada tahap kedua, dengan memberantas segala mitos-mitos yang diciptakan dan dikembangkan dimasa orde lama dan orde baru, yang bagaikan hantu-hantu yang menakuti proses baru yang muncul dari perubahan revolusioner.Pada tahapannya yang pertama edukasi harus membahas atau mempersoalkan masalah kesadaran kaum tertindas dan kaum penindas, yakni masalah manusia yang menindas dan manusia yang menjadi korban ketertindasan itu. Begitupun tak lupa pulah kita, ketika Bapak proklamator Bung Karno seringkali menggunakan dua teorinya dalam menentang ketertindasan yaitu Matchsforming dan matchsweding, niscaya perlawanan tak sia-sia. Bahasan itu harus mencakup masalah perilaku, pandangan dunia serta etika mereka. Suatu masalah khas dalam hal ini adalah dualitas kaum tertindas: mereka adalah manusia kontradiktif dan terbelah, dibentuk dan hidup dalam situasi penindasan dan kekejaman bahkan ketidakadilan yang nyata.Dalam situasi atau kondisi apapun juga; dimana satu pihak secara obyektif melakukan pemerasan terhadap pihak satunya lagi yang menjadi korban atau menghalanginya untuk mencapai afirmasi diri sebagai seorang manusia yang bertanggung jawab adalah sebuah bentuk penindasan. Situasi demikian yang acap kali yang diabggap janggal saja sudah berarti kekejaman walaupun dilabui dengan kedermawanan palsu, karena hal itu mencampuri fitrah ontologis dan historis manusia untuk menjadi lebih manusiawi. Dengan terbentuknya hubungan bersifat penindasan, maka kekejaman dan kebungkaman telah dimulai. Belum ada dalam sejarah dimana kekejaman dimulai oleh kaum tertindas. Bagaimana bisa mereka yang memulai, jika diri mereka sendiri hasil dari kekejaman itu ? bagaimana mungkin mereka mensuporrt suatu perilaku atau tindakanp; yang bertujuan membawa mereka kepada hidup yang namanya tertindas ? tidak akan ada kaum tertindas apabila tidak ada pra-keadaan buruk yang memungkinkan penaklukan atas mereka.Tindakan kekejaman selalu dimulai oleh mereka yang menindas, yang memeras, yang tidak mengakui orang lain sebagai manusia yang sama dalam hal apapun—bukan oleh mereka yang; diterpa ketertindasan, yang diperas, dan yang tidak diakui itu, melainkan dari mereka yg tidak adanya tertanam rasa manusiawi dalam dirinya, maka terwujudlah nasionalsime yang mana tidak adanya pemerasan atau penindasan terhadap sesama karena musuh kita bukanlah sesama kita, melainkan siapa , mereka yang merusak Ibu pertiwi kita. Karena kita Bhineka kita Indonesia.
Oleh. Fesyn Waku(mahasiswa manajemen)